SPONSOR

Rabu, 09 Maret 2016

Posted by Unknown 02.26


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
MAKALAH
Ditulis Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu: Farida Ulyani


Disusun Oleh :
1.      Badi’atul Islami    (1310110277)
2.      Choirin Nida         (1310110306)
3.      Nila Amilatus S     (1310110297)
4.      A. Shobibur R       (1310110287)




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/ PAI
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
            Dalam ranah pendidikan pasti akan ditemui permasalahan mengenai peserta didik yang memiliki banyak sekali perbedaan antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya. Terkait dengan hal itu, karena hakikatnya setiap manusia tentunya memiliki banyak perbedaan, baik dimulai dari perbedaan fisik mereka, maupun perbedaan karakter, perbedaan watak serta perbedaan dalam sikap dan perilaku. Hal itulah merupakan bentuk dari perkembangan seseorang dalam ranah individu masing-masing. Tidak terlepas dari hal itu, faktor-faktor yang terkait dalam perkembangan  tersebut adalah berasal dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
            Terkait dengan hal itu, faktor individu sering disebut juga “nature” atau bawaan (gen). sedangkan dari lingkungan sekitar sering disebut dengan “nurtur”. Dengan mengetahui apa makna dari natur dan nurtur, dapat disesuaikan dengan keadaan untuk memahami watak serta karakter yang berbeda-beda dari peserta didik, dan bagaimana kontribusinya terhadap pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengaruh faktor nature terhadap perkembangan?
2.      Apa Pengaruh faktor nurtur terhadap perkembangan?
3.      Bagaimanakah Determinasi, Natur dan Nurtur dalam perkembangan dan implikasinya dalam pendidikan?






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengaruh faktor nature terhadap perkembangan
            Munculnya konsep nature dipengaruhi oleh aliran filsafat Barat yang dikemukakan oleh Jean Jacquess Rousseau (dalam Stumpf, 1999). Rousseau mengatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkambangan kehidupan manusia. Sejak lahir manusia memiliki kondisi alamiah yang baik, dan tidak bercacat, sehingga manusia dipastikan akan menjadi orang yang baik pula. Istilah nature mengandung pengertian sebagai faktor-faktor alamiah, yang berhubungan dengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan, genetis herediter. Dengan mengambil istilah ini, maka perkambangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sifat-sifat karakteristik maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan melalui unsure gen kepada anak-anaknya. Sifat-sifat yang diturunkan bukan hanya bersifat fisiologis (berat badan, tinggi badan, warna kulit, rambut, jenis penyakit, penyakit jantung, kanker), akan tetapi juga karakteristik psikologis (tipe kepribadian, kecerdasan, bakat, kreativitas). Misalnya bila orang tua memiliki tinggi badan yang tinggi, maka anak yang diturunkan pun memiliki tubuh yang tinggi juga. Sebaliknya bila orang tua pendek, maka anaknya pun pada umumnya juga pendek.
            Nature merupakan salah satu isu yang menjadi perdebatan sengiit dalam psikologi perkembangan. Nature ( alam, sifat dasar ) dapat diartikan sebagai sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Dalam hal ini nature juga dapat diartikan sebagai “ totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi ( pembuahan ovum oleh sperma ) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen ”.
            Setiap individu memulai kehidupan sebagai organisme yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya kurang lebih 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur ( ovum ) yang berasal dari ayah. Didalam rahim, sel benih ini ( yang telah dibuahi ) terus bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi orgasme yang bersel dua, empat , delapan dan seterusnya sehingga setelah kurang lebih sembilan bulan menjadi organisme yang sempurna.
            Setiap sel tersebut memiliki inti sel (nukleus) yang sangat kecil .inti sel benih berlainan dengan sel yang lainnya (sel badan). Sel-sel badan mempunyai fungsi menggerakkan otot, menghubungkan syaraf, menahan keseimbangan dan sebagainya. Sedangkan sel benih mempunyai fungsi yang istimewa dan khusus, yaitu fungsi pertumbuhan (pembentukan organisme baru). Hanya sel-sel benih yang menentukan penurunan sifat, sel-sel lain tidak menentukan sifat.
            Setiap sel benih memiliki 48 kromosom (chromosom), yaitu benda seperti benang, yang berpasangan sebanyak 24 pasang. Setiap kromosom mengandung sejumlah gen-gen (unsur-unsur keturunan atau faktor-faktor dasar dalam pembawaan). Gen-gen inilah yang akan menentukan sifat-sifat individu, baik fisik maupun psikisnya. Jumlah ge-gen dalam satu sel telur yang telah dibuahi sebanyak 10.000 sampai 15.000.
            Adapun yang diturunkan orangtua kepada anaknya adalah sifat strukturnya bukan tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil belajar atau pengalaman. Penurunan sifat-sifat ini mengikuti prinsip-prinsip berikut.
a.       Reproduksi, berarti penurunannya sifat-sifatnya hanya berlangsung melalui sel benih.
b.      Konformitas (kesergaman), proses penurunan sifat akan mengikuti pola jenis (species) generasi sebelumnya, misalnya manusia akan menurunkan sifat-sifat manusia kepada anaknya.
c.       Variasi, karena jumlah gen-gen dalam setiap kromosom sangat banyak, maka kombinasi gen-gen pada setiap pembuahan akan mempunyai kemungkinan yang banyak pula. Dengan demikian, untuk setiap proses penurunan sifat akan terjadi penurunan yang beraneka (bervariasi). Antar kakak dan adik mungkin akan berlainan sifatnya.
d.      Regresi fillial, yaitu penurunan sifat cenderung kearah rata-rata.
           


B.     Pengaruh faktor nurtur terhadap perkembangan
            Nurtur (pemeliharaan, pengasuhan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkkungan yang mempngaruhi individu sejak masa pembuahan sampai selanjutnya. Menurut Urie Bronferbrenner & Ann Crouter mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan “berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu”. Sedangkan menurut J.P.Chaplin bahwa lingkungan merupakan “keseluruhan aspek atau fenomena fisik dan social yang mempengaruhi organisme individe”. Sementara itu Joe Kathena mengemukakan bahwa lingkungan itu merupakan segala sesuatu yang berada di luar individu yang meliputi fisik dan social budaya. Lingkungan ini merupakan sumber seluruh informasi yang diterima individu melalui alat inderanya : penglihatan, penciuman, pendengaran, dan rasa.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas, bahwa yang dimaksud dengan lingkungan perkembangan siswa adalah “keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi perkembangan siswa”. Lingkungan perkembangan siswa yang akan dibahas yaitu menyangkut lingkungan keluarga, sekolah, dan kelompok sebaya (peer group).
1.      Lingkungan Keluarga
Keluarga menurut M.I. Soelaeman mengemukakan pendapat para ahli mengenai pengertian keluarga, yaitu F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu dalam arti luas keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan denagn “clan” atau marga.
a.       Peranan dan Fungsi Keluarga
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Keluarga juga dipandang sebagai institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insai, terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia.
Mengkaji tentang fungsi keluarga dapat dikemukakan bahwa secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai berikut :
1.      Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota kularga lainnya
2.      Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis
3.      Sumber kasih saying dan penerimaan
4.      Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik
5.      Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat
6.      Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan terhadap kehidupan
7.      Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal, dan social
8.      Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi
9.      Sumber persahabatan bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga dapat diklsifiksiakn ke dalam fungi-fungsi berikut :
1.      Fungsi Biologis
2.      Fungsi Ekonomis
3.      Fungsi Pendidikan (Edukatif)
4.      Fungsi Sosialisasi
5.      Fungsi Perlindungan (Protektif)
6.      Fungsi Rekreatif
7.      Fungsi Agama (Religius)

b.      Faktor-Faktor Keluarga yang Mempengaruhi Perkembangan Anak (Remaja)
1)      Keberfungsian Keluarga
Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal (kondisi fisik, psikis dan moralitas anggota keluarga) dan faktor eksternal (perubaha social-budaya), maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragama.
Keluarga yang fungsional (normal) yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik : a) saling memperhatikan dan mencitai, b) bersikap terbuka dan jujur, c) orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya, d) ada “sharing” masalah atau pendapat dianta anggota keluarga, e) mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya, f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi, g) orangtua melindungi (mengayomi) anak, h) komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik, i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nila-nilai budaya, j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Keluarga yang mengalami disfungsional mempunyai resiko yang lebih besar untuk bergantung tumbuh kembang jiwanya (misalnya, berkepribadian anti sosial), dari pada anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan utuh (sakinah). Ciri-ciri keluarga yang mengalami disfungsional adalah : a) kematian salah satu atau kedua orangtua, b) kedua orangtua berpisah atau bercerai (divorce), c) hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage), d) hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent-child relationship), e) suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low warmth), f) orangtua sibuk dan jarang berada di rumah (parent’s absence), dan g) salah satu atau kedua orangtua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).
2)      Pola Hubungan Orangtua-Anak (Sikap atau Perlakuan Orangtua terhadap Anak)
Peck (Loree), telah meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen-elemen struktur kepribadian remaja. Hasil temuannya menunjukkan bahwa :
a.       Remaja yang memiliki “ego strength” (kematangan emosional, integrasi pribadi, otonomi, bertingkah laku rasional, persepsi diri dan social yang akurat, dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat), secara konsisten berkaitan erat dengan pengalamannya di lingkugan keluarga yang saling mempercayai dan menerima.
b.      Remaja yang memilki “superego strength” (berperilaku secara efektif yang dibimbing oleh kata hatinya) sangat berkaitan dengan keteraturan dan konsistensi kehidupan keluarganya.
c.       Remaja yang “friendliness” dan “spontanetty” berhungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
d.      Remaja yang bersikap bermusuhan dan memilki perasaan gelisah atau cemas terhadap dorongan-dorongan dari dalam, berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter.
3)      Kelas Sosial dan Status Ekonomi
Pikunas mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn, dan Sheldon, tentang kaitan antara kelas social dengan cara atau teknik orangtua dalam mengatur (mengelola/memperlakukan) anak, yaitu :
a)      Kelas bawah (Lower Class) cenderung lebih keras dalam “toilet training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.
b)      Kelas Menengah (Middle Class) cenderung lebih memberikan pengawasan dan perhatiannya sebagai orangtua. Mempunyai ambisi untuk meraih status yang lebih tinggi dan menekan anak untuk mengajar statusnya melalui pendidikan atau latihan professional.
c)      Kelas Atas (Upper Class) cenderung lebih memanfaatkan wajtu luangya dengan kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidkan yang reputasinya tinggi dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.
2.      Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian siswa, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga,dan guru substitusi orangtua. Ada beberapa alasan, menagapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak yaitu : a) para siswa harus hadir disekolah, b) sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan perkembangan “konsep diri-nya”, c) anak-anak banyak menghabiskan waktunya disekolah daripada di tempat lain di luar rumah, d) sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses, dan e) sekolah memberi kesempatan pertama kepada siswa untuk menilai dirinya, dan kemampuannya secara realistik.
Sekolah yang sehat (healthy school), didefinisikan sebagai kemampuan sekolah untuk berkembang, atau berubah dalam cara-cara yang produktif. Dalam hal ini, Johson mengemukakan pendapat Miles dan asosiasinya. Miles membagi sekolah yang sehat dalam tiga bidang, yaitu:
1)      Task-Accomplishment (penyelesaian tugas)
2)      Integrasi Internal
3)      Saling beradaptasi antara sekolah dengan
3.      Kelompok Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai teman sosial bagi remaja (siswa) mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya. Peranannya itu semakin penting, terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini, yaitu 1) perubahan struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil, 2) kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda, 3) ekspansi jaringan komunikasi di antara kawula muda, dan 4) panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa.
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah:
a.       Sosial Cognition: kemampuan untuk memikirkan tenatang pikiran, peraaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain.
b.      Konformitas: motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai-nilai, kebebasan, kegemaran, atau budaya teman sebayanya.
Mengkaji persahabatan di kalangan teman sebaya, banyak hasil penelitian menunjikkan, bahwa factor utama yang menentukan daya tarik hubungan interpersonal di antara para remaja pada umumnya adalah adanya kesamaan dalam minat, nilai-nilai, pendapat dan sifat-sifat kepribadian. Penelitian Kandel menunjukkan bahwa karakteristik persahabatan remaja adalah dipengaruhi oleh kesamaan dalam faktor-faktor, harapan/aspirasi pendidikan, nilai (prestasi belajar), absensi, dan pengajaran tugas-tugas atau pekerjaan rumah. Kandel juga menemukan bahwa kesamaan dalam menggunakan obat-obat terlarang, merokok, dan minuman keras mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemilihan teman.
Setiap ahli psikologi perkembangan membahas mengenai perkembangan manusia, manusia selalu mengkaitkan dengan dua istilah yaitu nature dan nurture. Setiap perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi dari kedua hal tersebut. Perkembangan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor internal (nature) tetapi juga dipengaruhi oleh faktor external (nurture). 
Berbeda dengan konsep nature, maka konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme, yang dikemukakan oleh John Locke. Locke ialah seorang filsuf kebangsaan inggris. Dengan teori tabula rasa, locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, ibaratnya seperti papan putih yang masih bersih. Karena itu, ia percaya bahwa baik-buruknya perkembangan hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh faktor lingkungannya. Dalam hal ini, istilah konsep nurture merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan social-budaya, media masa, status sosial ekonomi, agama dan sebagainya. Seorang individu akan berkembang menjadi orang dewasa yang baik, mandiri, cerdas dan bertanggung jawab, apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang mendukung perkembangan  tersebut. Sebaliknya, karena lingkungan hidupnya yang buruk dapat menyebabkan individu berkembang menjadi seorang pribadi yang tidak baik, bodoh, jahat dan tergantung. Oleh karena itu, untuk melihat perkembangan hidup manusia, seorang ahli sebaiknya memperhatikan kedua faktor tersebut. 
C.    Determinasi, Natur dan Nurtur dalam perkembangan dan implikasinya dalam pendidikan
            Nature” dan “nurture” merupakan isu dasar yang menjadi perdebatan sengit dalam  psikologi perkembangan. Nature (sifat dasar) dapat diartikan  sebagai sifat khas seseorang yang  dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan  sampai selanjutnya (Chaplin, 2002).
       Pada abat pertengahan, filosof mengungkapkan bahwa manusia membawa keburukan sejak lahir, dan Rousseau mengungkapkan mengenai kebaikan yang dibawa sejak lahir. Demikian juga  Descartes menyakini bahwa ide-ide tertentu dibawa sejak lahir. Sebaliknya, John Locke menegaskan bahwa pikiran bayi yang baru lahir merupakan “tabularasa” dan pengalaman akan menuliskan sesuatu di atasnya.
            Anastasi mengemukakan bahwa pengaruh keturunan terhadap tingkah laku selalu terjadi secara tidak langsung. Tidak ada satu pun fungsi-fungsi psikis yang secara langsung diturunkan oleh orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian,  pengaruh keturunan selalu membutuhkan perantara atau perangsang yang terdapat dalam lingkungan. Meskipun dalam kenyataanya ada semacam tingkatan , yang lebih dan yang kurang. Mengenai  pengaruh lingkungan ini Anastasi  mengemukakan adanya semacam factor segmental, artinya dari titik yang sempit sampai yang luas. Ada masa-masa ketika pengaruh lingkungan sangat kecil, dan sebaliknya  ada masa-masa ketika  pengaruhnya sangat besar.
            Dalam studi psikologi perkembangan terdapat berbagai teori yang berbeda-beda, baik dari segi isi atau pokokpembahasan, metode penelitian maupun sifat formalnya. Meskipun terdapat berbagai teori yang berbeda-beda, namun menurut Mille (1993) studi psikologi perkembangan yang dilakukan pada dasarnya mengacu kepada 4 (empat) isu utama dan salah satunya ialah “ Apa yang berkembang?”.
            Isu sentra mengenai “ Apa yang berkembang?” atau berkaitan dengan esensi perkembangan. Dalam hal ini terdapat beberapa unit analisis tentang apa yang berkembang, diantaranya adalah struktur kognitif, struktur psikis, strategi proses informasi, penentu pola tindakan, eksplorasi persepsi, perangkat kejiwaan.
Bagi piaget misalnya, yang menjadi esensi perkembangan adalah perkembangan kognitif. Esensi perkembangan kognitif menurut piaget adalah perubahan structural. Perubahan structural memberi pengaruh terhadap perubahan dalam isi fikiran. Sedangkan bagi freud, esensi perkembangan adalah membangun struktur id, ego, dan superego yang menyalurkan dan mentransformasi energy seksual.
            Menurut pandangan kontemporer, (seperti Santrock, 1995; Seifert & Hoffnung, 1994), esensi perkembangan meliputi 3 (tiga) bidang utama, yaitu perkembangan fisik (biologis), kognitif, dan psikososial (sosioemosional). Perkembangan fisik meliputi perubahan dalam fisik (otak, panca indra, otot, tulang), perubahan dalam ketrampilan motorik, perubahan hormone seksual, penurunan jantung, penglihatan, dan sebagainya. Sedangkan perkembangan kognitif meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi dan perubahan kepribadian. Ketiga dimensi utama perkembangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan.
            Sehingga dapat dikaitkan dari beberapa pemaparan diatas bahwa faktor natur maupun nurtur memiliki peran yang sama penting dalam proses perkembangan pendidikan seseorang, baik meliputi fisik seseorang, intelektual, sosial, emosi maupun sikap dan perilaku. Dimulai dari keluarga yang merupakan lingkungan pertama seseorang dalam mendapatkan pendidikan. Dan selain hal itu, pendidikan keluarga merupakan langkah awal sesorang dalam membentuk kepribadiannya.
            Selanjutnya adalah dari pihak lingkungan yang meliputi sekolah, teman sebaya maupun  masyarakat yang menjadi pendamping dalam perkembangan seseorang. Dari pihak sekolah yang menjadi tempat seseorang untuk belajar serta mengembangkan potensi yang dimiliki. Serta masyarakat yang menjadi pendamping dalam perkembangan seseorang melalui interaksi sosial yang terjadi dimasyarakat serta norma-norma maupun dengan adat istiadat yang ada.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Natur dan Nurtur merupakan komponen dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan  seseorang. Nature (sifat dasar) dapat diartikan  sebagai sifat khas seseorang yang  dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan  sampai selanjutnya. Ranah yang terkait dengan nurtur adalah meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, serta teman sebaya.
            Dari faktor natur maupun nurtur sama-sama memiliki peran yang penting dalam proses perkembangan pendidikan seseorang, baik meliputi fisik seseorang, intelektual, sosial, emosional maupun sikap dan perilaku. Dimulai dari keluarga yang merupakan lingkungan pertama seseorang dalam mendapatkan pendidikan. Dan selain hal itu, pendidikan keluarga merupakan modal awal dari seseorang dalam berkembang kedepannya.
            Selanjutnya adalah dari pihak lingkungan yang meliputi sekolah, teman sebaya maupun  masyarakat yang menjadi pendamping dalam perkembangan seseorang. Dari pihak sekolah yang menjadi tempat seseorang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan berinteraksi dengan teman sebaya sebagai langkah dalam mengembangkan psikologi, sehingga seseorang akan belajar untuk beradaptasi pada lingkungan mereka.. Serta masyarakat yang menjadi pendamping dalam perkembangan seseorang melalui interaksi sosial serta norma maupun dengan adat istiadat yang ada.


















DAFTAR PUSTAKA
            Agoes Dariyo. 2007.  Psikologi Perkembangan Anak Usia Tiga Tahun Pertama. Bandung. PT. Refika Aditama

            Desmita. 2005.  psikologi perkembangan. Bandung. PT.Rosdakarya remaja

            Syamsul yusuf. 2009. psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung. PT. Remaja rosdakarya

1 komentar:

  1. Coin Casino Review | Honest Casino Review | C$300 Welcome
    Find out the latest 코인카지노 마팀장 Coin Casino review. ✓Online Casinos in Canada ✓Best Casino Bonus Offers ✓Best Bonus Codes.

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

PEMIRSA ISYWAH