FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
MAKALAH
Ditulis Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu: Farida Ulyani
Disusun Oleh :
1.
Badi’atul
Islami (1310110277)
2.
Choirin
Nida (1310110306)
3.
Nila
Amilatus S (1310110297)
4.
A. Shobibur
R (1310110287)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/ PAI
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam ranah pendidikan pasti akan ditemui permasalahan mengenai
peserta didik yang memiliki banyak sekali perbedaan antara peserta didik yang
satu dengan yang lainnya. Terkait dengan hal itu, karena hakikatnya setiap
manusia tentunya memiliki banyak perbedaan, baik dimulai dari perbedaan fisik
mereka, maupun perbedaan karakter, perbedaan watak serta perbedaan dalam sikap
dan perilaku. Hal itulah merupakan bentuk dari perkembangan seseorang dalam
ranah individu masing-masing. Tidak terlepas dari hal itu, faktor-faktor yang
terkait dalam perkembangan tersebut
adalah berasal dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Terkait dengan hal
itu, faktor individu sering disebut juga “nature” atau bawaan (gen). sedangkan
dari lingkungan sekitar sering disebut dengan “nurtur”. Dengan mengetahui apa
makna dari natur dan nurtur, dapat disesuaikan dengan keadaan untuk memahami
watak serta karakter yang berbeda-beda dari peserta didik, dan bagaimana
kontribusinya terhadap pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengaruh faktor nature terhadap perkembangan?
2.
Apa
Pengaruh faktor nurtur terhadap perkembangan?
3.
Bagaimanakah
Determinasi, Natur dan Nurtur dalam perkembangan dan implikasinya dalam
pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengaruh faktor nature terhadap perkembangan
Munculnya konsep
nature dipengaruhi oleh aliran filsafat Barat yang dikemukakan oleh Jean
Jacquess Rousseau (dalam Stumpf, 1999). Rousseau mengatakan bahwa faktor-faktor
alamiah mempengaruhi perkambangan kehidupan manusia. Sejak lahir manusia
memiliki kondisi alamiah yang baik, dan tidak bercacat, sehingga manusia
dipastikan akan menjadi orang yang baik pula. Istilah nature mengandung
pengertian sebagai faktor-faktor alamiah, yang berhubungan dengan aspek
bio-fisiologis terutama keturunan, genetis herediter. Dengan mengambil istilah
ini, maka perkambangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Sifat-sifat karakteristik maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan
diturunkan melalui unsure gen kepada anak-anaknya. Sifat-sifat yang diturunkan
bukan hanya bersifat fisiologis (berat badan, tinggi badan, warna kulit,
rambut, jenis penyakit, penyakit jantung, kanker), akan tetapi juga
karakteristik psikologis (tipe kepribadian, kecerdasan, bakat, kreativitas).
Misalnya bila orang tua memiliki tinggi badan yang tinggi, maka anak yang
diturunkan pun memiliki tubuh yang tinggi juga. Sebaliknya bila orang tua
pendek, maka anaknya pun pada umumnya juga pendek.
Nature merupakan
salah satu isu yang menjadi perdebatan sengiit dalam psikologi perkembangan.
Nature ( alam, sifat dasar ) dapat diartikan sebagai sifat khas seseorang yang
dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Dalam
hal ini nature juga dapat diartikan sebagai “ totalitas karakteristik individu
yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun
psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi ( pembuahan ovum oleh sperma
) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen ”.
Setiap individu
memulai kehidupan sebagai organisme yang bersel tunggal yang bentuknya sangat
kecil, garis tengahnya kurang lebih 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan
perpaduan antara sel telur ( ovum ) yang berasal dari ayah. Didalam rahim, sel
benih ini ( yang telah dibuahi ) terus bertambah besar dengan jalan pembelahan
sel menjadi orgasme yang bersel dua, empat , delapan dan seterusnya sehingga
setelah kurang lebih sembilan bulan menjadi organisme yang sempurna.
Setiap sel
tersebut memiliki inti sel (nukleus) yang sangat kecil .inti sel benih
berlainan dengan sel yang lainnya (sel badan). Sel-sel badan mempunyai fungsi
menggerakkan otot, menghubungkan syaraf, menahan keseimbangan dan sebagainya.
Sedangkan sel benih mempunyai fungsi yang istimewa dan khusus, yaitu fungsi pertumbuhan
(pembentukan organisme baru). Hanya sel-sel benih yang menentukan penurunan
sifat, sel-sel lain tidak menentukan sifat.
Setiap sel benih
memiliki 48 kromosom (chromosom), yaitu benda seperti benang, yang
berpasangan sebanyak 24 pasang. Setiap kromosom mengandung sejumlah gen-gen
(unsur-unsur keturunan atau faktor-faktor dasar dalam pembawaan). Gen-gen
inilah yang akan menentukan sifat-sifat individu, baik fisik maupun psikisnya.
Jumlah ge-gen dalam satu sel telur yang telah dibuahi sebanyak 10.000 sampai
15.000.
Adapun yang
diturunkan orangtua kepada anaknya adalah sifat strukturnya bukan tingkah laku
yang diperoleh sebagai hasil belajar atau pengalaman. Penurunan sifat-sifat ini
mengikuti prinsip-prinsip berikut.
a.
Reproduksi,
berarti penurunannya sifat-sifatnya hanya berlangsung melalui sel benih.
b.
Konformitas
(kesergaman), proses penurunan sifat akan mengikuti pola jenis (species)
generasi sebelumnya, misalnya manusia akan menurunkan sifat-sifat manusia
kepada anaknya.
c.
Variasi,
karena jumlah gen-gen dalam setiap kromosom sangat banyak, maka kombinasi gen-gen
pada setiap pembuahan akan mempunyai kemungkinan yang banyak pula. Dengan
demikian, untuk setiap proses penurunan sifat akan terjadi penurunan yang
beraneka (bervariasi). Antar kakak dan adik mungkin akan berlainan sifatnya.
B.
Pengaruh faktor nurtur terhadap perkembangan
Nurtur (pemeliharaan, pengasuhan) dapat diartikan sebagai
faktor-faktor lingkkungan yang mempngaruhi individu sejak masa pembuahan sampai
selanjutnya.
Menurut Urie Bronferbrenner & Ann Crouter mengemukakan bahwa lingkungan
perkembangan merupakan “berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar
organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan
individu”. Sedangkan menurut J.P.Chaplin bahwa lingkungan merupakan
“keseluruhan aspek atau fenomena fisik dan social yang mempengaruhi organisme
individe”. Sementara itu Joe Kathena mengemukakan bahwa lingkungan itu
merupakan segala sesuatu yang berada di luar individu yang meliputi fisik dan
social budaya. Lingkungan ini merupakan sumber seluruh informasi yang diterima
individu melalui alat inderanya : penglihatan, penciuman, pendengaran, dan
rasa.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas, bahwa yang dimaksud dengan
lingkungan perkembangan siswa adalah “keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi,
atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi perkembangan siswa”.
Lingkungan perkembangan siswa yang akan dibahas yaitu menyangkut lingkungan
keluarga, sekolah, dan kelompok sebaya (peer group).
1.
Lingkungan
Keluarga
Keluarga menurut M.I. Soelaeman mengemukakan pendapat para ahli
mengenai pengertian keluarga, yaitu F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari
sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu dalam arti
luas keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang
dapat dibandingkan denagn “clan” atau marga.
a.
Peranan
dan Fungsi Keluarga
Keluarga memiliki peranan yang
sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Keluarga juga dipandang
sebagai institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insai, terutama kebutuhan bagi
pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia.
Mengkaji tentang fungsi keluarga
dapat dikemukakan bahwa secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai
berikut :
1.
Pemberi
rasa aman bagi anak dan anggota kularga lainnya
2.
Sumber
pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis
3.
Sumber
kasih saying dan penerimaan
4.
Model
pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat
yang baik
5.
Pemberi
bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat
6.
Pembentuk
anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan terhadap
kehidupan
7.
Pemberi
bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal, dan social
8.
Stimulator
bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi
9.
Sumber
persahabatan bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di
luar rumah.
Sedangkan dari
sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga dapat diklsifiksiakn ke dalam
fungi-fungsi berikut :
1.
Fungsi
Biologis
2.
Fungsi
Ekonomis
3.
Fungsi
Pendidikan (Edukatif)
4.
Fungsi
Sosialisasi
5.
Fungsi
Perlindungan (Protektif)
6.
Fungsi
Rekreatif
7.
Fungsi
Agama (Religius)
b.
Faktor-Faktor
Keluarga yang Mempengaruhi Perkembangan Anak (Remaja)
1)
Keberfungsian
Keluarga
Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal (kondisi
fisik, psikis dan moralitas anggota keluarga) dan faktor eksternal (perubaha
social-budaya), maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragama.
Keluarga yang fungsional (normal) yaitu keluarga yang telah mampu
melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Disamping itu,
keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik : a) saling memperhatikan
dan mencitai, b) bersikap terbuka dan jujur, c) orangtua mau mendengarkan anak,
menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya, d) ada “sharing” masalah atau
pendapat dianta anggota keluarga, e) mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya,
f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi, g) orangtua melindungi
(mengayomi) anak, h) komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik,
i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nila-nilai
budaya, j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Keluarga yang mengalami disfungsional mempunyai resiko yang lebih besar
untuk bergantung tumbuh kembang jiwanya (misalnya, berkepribadian anti sosial),
dari pada anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dan utuh (sakinah).
Ciri-ciri keluarga yang mengalami disfungsional adalah : a) kematian salah satu
atau kedua orangtua, b) kedua orangtua berpisah atau bercerai (divorce), c)
hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage), d) hubungan orangtua dengan
anak tidak baik (poor parent-child relationship), e) suasana rumah tangga yang
tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low warmth), f) orangtua sibuk
dan jarang berada di rumah (parent’s absence), dan g) salah satu atau kedua
orangtua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or
psychological disorder).
2)
Pola
Hubungan Orangtua-Anak (Sikap atau Perlakuan Orangtua terhadap Anak)
Peck (Loree), telah meneliti hubungan antara karakteristik
emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen-elemen struktur kepribadian
remaja. Hasil temuannya menunjukkan bahwa :
a.
Remaja
yang memiliki “ego strength” (kematangan emosional, integrasi pribadi, otonomi,
bertingkah laku rasional, persepsi diri dan social yang akurat, dan keinginan
untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat), secara konsisten
berkaitan erat dengan pengalamannya di lingkugan keluarga yang saling
mempercayai dan menerima.
b.
Remaja
yang memilki “superego strength” (berperilaku secara efektif yang dibimbing
oleh kata hatinya) sangat berkaitan dengan keteraturan dan konsistensi
kehidupan keluarganya.
c.
Remaja
yang “friendliness” dan “spontanetty” berhungan erat dengan iklim keluarga yang
demokratis.
d.
Remaja
yang bersikap bermusuhan dan memilki perasaan gelisah atau cemas terhadap
dorongan-dorongan dari dalam, berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter.
3)
Kelas
Sosial dan Status Ekonomi
Pikunas
mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn, dan Sheldon, tentang kaitan antara
kelas social dengan cara atau teknik orangtua dalam mengatur
(mengelola/memperlakukan) anak, yaitu :
a)
Kelas
bawah (Lower Class) cenderung lebih keras dalam “toilet training” dan lebih
sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.
b)
Kelas
Menengah (Middle Class) cenderung lebih memberikan pengawasan dan perhatiannya
sebagai orangtua. Mempunyai ambisi untuk meraih status yang lebih tinggi dan menekan
anak untuk mengajar statusnya melalui pendidikan atau latihan professional.
c)
Kelas
Atas (Upper Class) cenderung lebih memanfaatkan wajtu luangya dengan
kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidkan yang
reputasinya tinggi dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.
2.
Lingkungan
Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis
melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu
siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek
moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock
mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan
kepribadian siswa, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku.
Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga,dan guru substitusi orangtua. Ada
beberapa alasan, menagapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi
perkembangan kepribadian anak yaitu : a) para siswa harus hadir disekolah, b)
sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan
perkembangan “konsep diri-nya”, c) anak-anak banyak menghabiskan waktunya
disekolah daripada di tempat lain di luar rumah, d) sekolah memberikan
kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses, dan e) sekolah memberi kesempatan
pertama kepada siswa untuk menilai dirinya, dan kemampuannya secara realistik.
Sekolah yang sehat (healthy school), didefinisikan sebagai
kemampuan sekolah untuk berkembang, atau berubah dalam cara-cara yang
produktif. Dalam hal ini, Johson mengemukakan pendapat Miles dan asosiasinya.
Miles membagi sekolah yang sehat dalam tiga bidang, yaitu:
1)
Task-Accomplishment
(penyelesaian tugas)
2)
Integrasi
Internal
3)
Saling
beradaptasi antara sekolah dengan
3.
Kelompok
Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai teman sosial bagi remaja (siswa)
mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya.
Peranannya itu semakin penting, terutama pada saat terjadinya perubahan dalam
struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini, yaitu 1) perubahan
struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil, 2) kesenjangan antara
generasi tua dan generasi muda, 3) ekspansi jaringan komunikasi di antara
kawula muda, dan 4) panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang
dewasa.
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam
pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah:
a.
Sosial
Cognition: kemampuan untuk memikirkan tenatang pikiran, peraaan, motif, dan
tingkah laku dirinya dan orang lain.
b.
Konformitas:
motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai-nilai, kebebasan,
kegemaran, atau budaya teman sebayanya.
Mengkaji
persahabatan di kalangan teman sebaya, banyak hasil penelitian menunjikkan,
bahwa factor utama yang menentukan daya tarik hubungan interpersonal di antara
para remaja pada umumnya adalah adanya kesamaan dalam minat, nilai-nilai,
pendapat dan sifat-sifat kepribadian. Penelitian Kandel menunjukkan bahwa
karakteristik persahabatan remaja adalah dipengaruhi oleh kesamaan dalam
faktor-faktor, harapan/aspirasi pendidikan, nilai (prestasi belajar), absensi,
dan pengajaran tugas-tugas atau pekerjaan rumah. Kandel juga menemukan bahwa
kesamaan dalam menggunakan obat-obat terlarang, merokok, dan minuman keras
mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemilihan teman.
Setiap ahli
psikologi perkembangan membahas mengenai perkembangan manusia, manusia selalu
mengkaitkan dengan dua istilah yaitu nature dan nurture. Setiap perkembangan
manusia dipengaruhi oleh interaksi dari kedua hal tersebut. Perkembangan bukan
hanya dipengaruhi oleh faktor internal (nature) tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor external (nurture).
Berbeda dengan
konsep nature, maka konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme,
yang dikemukakan oleh John Locke. Locke ialah seorang filsuf kebangsaan
inggris. Dengan teori tabula rasa, locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan
dalam keadaan suci, ibaratnya seperti papan putih yang masih bersih. Karena
itu, ia percaya bahwa baik-buruknya perkembangan hidup manusia tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh faktor lingkungannya. Dalam hal ini, istilah konsep
nurture merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan social-budaya, media
masa, status sosial ekonomi, agama dan sebagainya. Seorang individu akan
berkembang menjadi orang dewasa yang baik, mandiri, cerdas dan bertanggung
jawab, apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang mendukung
perkembangan tersebut. Sebaliknya,
karena lingkungan hidupnya yang buruk dapat menyebabkan individu berkembang
menjadi seorang pribadi yang tidak baik, bodoh, jahat dan tergantung. Oleh
karena itu, untuk melihat perkembangan hidup manusia, seorang ahli sebaiknya
memperhatikan kedua faktor tersebut.
C.
Determinasi, Natur dan Nurtur dalam perkembangan dan implikasinya
dalam pendidikan
”Nature”
dan “nurture” merupakan isu dasar yang menjadi perdebatan sengit
dalam psikologi perkembangan. Nature (sifat
dasar) dapat diartikan sebagai sifat
khas seseorang yang dibawa sejak kecil
atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan)
dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu
sejak masa pembuahan sampai selanjutnya
(Chaplin, 2002).
Pada abat pertengahan, filosof
mengungkapkan bahwa manusia membawa keburukan sejak lahir, dan Rousseau
mengungkapkan mengenai kebaikan yang dibawa sejak lahir. Demikian juga Descartes menyakini bahwa ide-ide tertentu
dibawa sejak lahir. Sebaliknya, John Locke menegaskan bahwa pikiran bayi yang
baru lahir merupakan “tabularasa” dan pengalaman akan menuliskan sesuatu di
atasnya.
Anastasi
mengemukakan bahwa pengaruh keturunan terhadap tingkah laku selalu terjadi
secara tidak langsung. Tidak ada satu pun fungsi-fungsi psikis yang secara
langsung diturunkan oleh orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian, pengaruh keturunan selalu membutuhkan
perantara atau perangsang yang terdapat dalam lingkungan. Meskipun dalam
kenyataanya ada semacam tingkatan , yang lebih dan yang kurang. Mengenai pengaruh lingkungan ini Anastasi mengemukakan adanya semacam factor segmental,
artinya dari titik yang sempit sampai yang luas. Ada masa-masa ketika pengaruh
lingkungan sangat kecil, dan sebaliknya
ada masa-masa ketika pengaruhnya
sangat besar.
Dalam studi psikologi perkembangan
terdapat berbagai teori yang berbeda-beda, baik dari segi isi atau
pokokpembahasan, metode penelitian maupun sifat formalnya. Meskipun terdapat
berbagai teori yang berbeda-beda, namun menurut Mille (1993) studi psikologi
perkembangan yang dilakukan pada dasarnya mengacu kepada 4 (empat) isu utama dan
salah satunya ialah “ Apa yang berkembang?”.
Isu sentra mengenai “ Apa yang
berkembang?” atau berkaitan dengan esensi perkembangan. Dalam hal ini terdapat
beberapa unit analisis tentang apa yang berkembang, diantaranya adalah struktur
kognitif, struktur psikis, strategi proses informasi, penentu pola tindakan,
eksplorasi persepsi, perangkat kejiwaan.
Bagi piaget
misalnya, yang menjadi esensi perkembangan adalah perkembangan kognitif. Esensi
perkembangan kognitif menurut piaget adalah perubahan structural. Perubahan
structural memberi pengaruh terhadap perubahan dalam isi fikiran. Sedangkan
bagi freud, esensi perkembangan adalah membangun struktur id, ego, dan superego
yang menyalurkan dan mentransformasi energy seksual.
Menurut pandangan kontemporer, (seperti
Santrock, 1995; Seifert & Hoffnung, 1994), esensi perkembangan meliputi 3
(tiga) bidang utama, yaitu perkembangan fisik (biologis), kognitif, dan
psikososial (sosioemosional). Perkembangan fisik meliputi perubahan dalam fisik
(otak, panca indra, otot, tulang), perubahan dalam ketrampilan motorik,
perubahan hormone seksual, penurunan jantung, penglihatan, dan sebagainya.
Sedangkan perkembangan kognitif meliputi perubahan pada relasi individu dengan
orang lain, perubahan pada emosi dan perubahan kepribadian. Ketiga dimensi
utama perkembangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan.
Sehingga dapat
dikaitkan dari beberapa pemaparan diatas bahwa faktor natur maupun nurtur
memiliki peran yang sama penting dalam proses perkembangan pendidikan
seseorang, baik meliputi fisik seseorang, intelektual, sosial, emosi maupun
sikap dan perilaku. Dimulai dari keluarga yang merupakan lingkungan pertama
seseorang dalam mendapatkan pendidikan. Dan selain hal itu, pendidikan keluarga
merupakan langkah awal sesorang dalam membentuk kepribadiannya.
Selanjutnya adalah
dari pihak lingkungan yang meliputi sekolah, teman sebaya maupun masyarakat yang menjadi pendamping dalam
perkembangan seseorang. Dari pihak sekolah yang menjadi tempat seseorang untuk belajar
serta mengembangkan potensi yang dimiliki. Serta masyarakat yang menjadi
pendamping dalam perkembangan seseorang melalui interaksi sosial yang terjadi
dimasyarakat serta norma-norma maupun dengan adat istiadat yang ada.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Natur dan Nurtur
merupakan komponen dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang. Nature (sifat dasar) dapat
diartikan sebagai sifat khas seseorang
yang dibawa sejak kecil atau yang
diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan) dapat
diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak
masa pembuahan sampai selanjutnya. Ranah
yang terkait dengan nurtur adalah meliputi lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, serta teman sebaya.
Dari faktor natur
maupun nurtur sama-sama memiliki peran yang penting dalam proses perkembangan
pendidikan seseorang, baik meliputi fisik seseorang, intelektual, sosial,
emosional maupun sikap dan perilaku. Dimulai dari keluarga yang merupakan
lingkungan pertama seseorang dalam mendapatkan pendidikan. Dan selain hal itu,
pendidikan keluarga merupakan modal awal dari seseorang dalam berkembang
kedepannya.
Selanjutnya adalah
dari pihak lingkungan yang meliputi sekolah, teman sebaya maupun masyarakat yang menjadi pendamping dalam
perkembangan seseorang. Dari pihak sekolah yang menjadi tempat seseorang untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki dan berinteraksi dengan teman sebaya
sebagai langkah dalam mengembangkan psikologi, sehingga seseorang akan belajar
untuk beradaptasi pada lingkungan mereka.. Serta masyarakat yang menjadi
pendamping dalam perkembangan seseorang melalui interaksi sosial serta norma
maupun dengan adat istiadat yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes Dariyo.
2007. Psikologi Perkembangan Anak Usia Tiga Tahun Pertama. Bandung. PT.
Refika Aditama
Desmita.
2005. psikologi perkembangan.
Bandung. PT.Rosdakarya remaja
Syamsul yusuf.
2009. psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung. PT. Remaja
rosdakarya








Coin Casino Review | Honest Casino Review | C$300 Welcome
BalasHapusFind out the latest 코인카지노 마팀장 Coin Casino review. ✓Online Casinos in Canada ✓Best Casino Bonus Offers ✓Best Bonus Codes.